Agustus 2026

TEDx SIS-PIK YOUTH 2026

Siswa-Siswi SIS-PIK Mengubah Perspektif melalui TEDxSIS-PIK Youth 2026
Mini Auditorium SIS-PIK berubah menjadi panggung untuk berbagai gagasan pada Sabtu, 22 Agustus 2026. TEDxSIS-PIK Youth 2026 mempertemukan sekitar 80 siswa, guru, dan tamu dalam sebuah acara TEDx yang diselenggarakan secara independen dengan mengangkat tema “Shifting the Narrative” (Mengubah Perspektif). Acara ini mengikuti semangat TED untuk mempertemukan orang-orang melalui percakapan yang bermakna dan gagasan-gagasan yang menginspirasi. Pembawa acara, Mr Marcelo dan Ms Roschelle, membuka pagi hari dengan sebuah tantangan kepada seluruh peserta untuk melihat hal-hal yang sudah familiar melalui sudut pandang yang berbeda.

Di balik layar, TEDxSIS-PIK Youth 2026 merupakan hasil dari proyek Creativity, Activity, Service (CAS) yang dikerjakan oleh siswa-siswi Kelas 12 IBDP, Grant Ananta Bodhiprabha dan Audrey Keira Widiyanto. Bersama tim yang lebih besar yang terdiri dari para siswa Kelas 12, keduanya mengambil tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan acara TEDx secara mandiri – mulai dari mencari sponsor dan mengkonfirmasi pembicara hingga mengkoordinasikan seluruh kebutuhan logistik pada hari pelaksanaan. Kelancaran acara, mulai dari pembukaan pagi yang tepat waktu, pergantian sesi makan siang yang teratur, hingga sesi sore yang berlangsung penuh, mencerminkan perencanaan matang selama berbulan-bulan yang dilakukan oleh tim kepemimpinan siswa.

Sesi pagi, Sesi 1, dibuka oleh penulis sekaligus konsultan asuransi Yosephine Salim, yang berbagi pengalaman masa kecilnya di sebuah rumah di Jakarta Utara yang juga berfungsi sebagai tempat katering, serta bagaimana pengalaman tersebut membentuk naluri kreatif yang mendukung perjalanan karirnya yang beragam. Selanjutnya, Alexandra Niccole Usmany, siswi Kelas 11 yang “tidak pernah mengenal dunia tanpa plastik”, menyampaikan gagasannya dengan menantang berbagai asumsi mengenai solusi yang ada saat ini untuk mengatasi pencemaran plastik, berdasarkan penelitiannya sendiri di bidang bioteknologi.

Mr Dwi Firli Ashari, Kepala Departemen Bahasa Indonesia di High School, kemudian berbicara mengenai bagaimana bahasa, kewarganegaraan, dan sastra dapat menjadi pintu gerbang untuk memahami budaya serta kehidupan di luar pengalaman pribadi seorang siswa. Sesi 1 ditutup oleh Kepala Departemen Seni Pertunjukan, Ms Gan Tze Yun (Debbie Gan), yang membahas bagaimana musik dan teater dapat membangun kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, serta rasa memiliki dalam diri siswa.

Setelah istirahat makan siang – yang oleh para pembawa acara dianjurkan untuk digunakan siswa sebagai kesempatan melanjutkan percakapan dari sesi pagi – Sesi 2 dibuka oleh Natascha Adeline Ziliwu, seorang siswi berusia 15 tahun dan salah satu pendiri merek tekstil budaya Tuwu Nukhada. Ia berbicara tentang upaya menghidupkan kembali dan memperkenalkan warisan budaya Nias melalui teknik tenun kontemporer. Selanjutnya, pendidik bidang Fisika dan Teknik, Mr Andrei Espencer Mayol Ordonio, berbagi wawasan berdasarkan latar belakang penelitiannya dalam bidang termodinamika kuantum dan menggambarkan proses perkembangan diri sebagai sebuah bentuk perubahan fase.

Clarissa Hamashiach Tarigan dan Michelle Malpine Sondang Tobing, pendiri inisiatif kesehatan kepemimpinan siswa dari Food Access menyampaikan presentasi mengenai pentingnya mengubah cara pandang terhadap pilihan pribadi sebagai langkah awal menuju masa depan yang lebih sehat. Sementara itu, siswa Kelas 10 sekaligus peserta Model United Nations, Charlito Rizki Gunawan, menutup rangkaian pembicara dengan mengajak para peserta acara untuk mempertimbangkan apakah masyarakat sebaiknya mempertahankan sistem yang ada atau beradaptasi dengan realitas baru.

Acara diakhiri dengan pemberian sertifikat kepada seluruh delapan pembicara, dilanjutkan dengan foto bersama dengan para pembicara, panitia, dan peserta. Dalam sambutan penutup, Mr Marcelo dan Ms Roschelle mengajak para siswa untuk tidak hanya mengingat pengalaman pada hari tersebut, tetapi juga terus membawa pertanyaan-pertanyaan yang muncul ke dalam kehidupan mereka setelah acara berakhir.

Bagi para penyelenggara, Grant Ananta Bodhiprabha dan Audrey Keira Widiyanto, keberhasilan acara ini merupakan hasil dari proyek CAS yang dikerjakan melalui perencanaan yang cermat dan kolaboratif. Bersama anggota komite Kelas 12, mereka menangani berbagai aspek mulai dari menghubungi calon sponsor hingga mengelola kebutuhan logistik pada hari pelaksanaan. Acara yang berlangsung lancar tanpa kendala ini menjadi bukti kuat atas kemampuan dan semangat kepemimpinan organisasi siswa di SIS-PIK.

TEDxSIS-PIK Youth 2026 dipersembahkan bersama oleh Sponsor Gold: I CAN Education; para Sponsor Silver: English 1 Pantai Indah Kapuk, Topui’kia Hawker Kopitiam, Bear and Butter, dan Eminence; serta Sponsor Bronze: Suite and Share.