SIS-PIK Community Showcase

Februari 2026

BUKU HARIAN DR DAN

Yth. Keluarga Besar SIS-PIK,

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang menggugah pemikiran dalam buletin Council of International Schools. Seorang pemimpin sekolah mempertanyakan apakah pendidikan internasional seharusnya ditawarkan kepada siswa lokal, dengan menyatakan bahwa jika sebagian besar siswa berasal dari negara tersebut, maka mungkin sekolah-sekolah tersebut tidak lagi benar-benar bersifat “internasional”.

Komentar tersebut membuat saya berpikir sejenak, namun juga mengangkat sebuah pertanyaan penting yang kini dipertimbangkan oleh banyak pendidik di seluruh dunia: Apa tujuan pendidikan internasional saat ini?

Selama bertahun-tahun, sekolah internasional pada umumnya diperuntukkan keluarga ekspatriat. Gambaran tersebut kini telah berubah. Semakin banyak sekolah, termasuk SIS-PIK, yang menyambut siswa dari negaranya sendiri bersama dengan teman-teman mereka dari berbagai negara lainnya. Di SIS-PIK, para siswa Indonesia belajar di dalam kelas yang mencerminkan keberagaman dunia, dengan lebih dari 20 kewarganegaraan yang mewakili komunitas sekolah kami.

Bagi saya, hal ini tidak melemahkan pendidikan internasional, justru memperkuatnya.

Pendidikan internasional tidak pernah ditentukan oleh paspor yang dimiliki seorang siswa, melainkan oleh pola pikir yang mereka kembangkan. Ketika generasi muda mempelajari berbagai bahasa, mengenal beragam sudut pandang, berkolaborasi lintas budaya, serta mempelajari kurikulum yang mempersiapkan mereka untuk jalur global, mereka memperoleh keterampilan yang dibutuhkan untuk memahami dunia yang semakin kompleks.

Artikel tersebut juga menyoroti perbedaan yang penting antara berpendidikan secara internasional dan menerima pendidikan internasional. Perbedaannya terletak pada tujuan. Sekadar menyampaikan kurikulum asing tidaklah cukup. Yang terpenting adalah bagaimana pendidikan membentuk empati, rasa ingin tahu, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan untuk memahami dan menghadapi perbedaan.

Hal ini kami lihat secara nyata di ruang kelas, dalam tim olahraga, pertunjukan seni, dan kegiatan pelayanan. Kami juga menyaksikannya melalui perayaan budaya China yang kami adakan minggu lalu. Para siswa belajar untuk saling mendukung keberhasilan satu sama lain, memahami sudut pandang yang berbeda, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Pengalaman-pengalaman ini mencerminkan apa yang kita lihat dalam ajang global seperti Olimpiade, di mana individu dari berbagai negara berkompetisi dengan penuh semangat namun tetap menunjukkan rasa saling menghormati dan kebersamaan. Semangat inilah yang mencerminkan inti dari pendidikan internasional.

Inilah alasan mengapa SIS-PIK hadir dengan wawasan global. Tujuan kami bukan untuk mempersiapkan siswa agar meninggalkan Indonesia, melainkan untuk memastikan mereka mampu berkembang di mana pun berada, termasuk di tanah air sendiri. Pendidikan internasional memberikan akses, kesempatan, dan perspektif. Pendidikan ini membantu siswa memahami siapa diri mereka, sekaligus menghargai orang lain. Dengan demikian, pertanyaannya bukanlah apakah siswa lokal seharusnya menerima pendidikan internasional, melainkan seberapa baik sekolah membantu seluruh siswanya menjadi individu yang berpikiran global dan mampu berkontribusi secara positif bagi komunitasnya.

Itulah tujuan kami, dan kami senantiasa berterima kasih atas dukungan yang Bapak/Ibu selaku orang tua siswa berikan kepada kami.

Salam hangat,

Dr Dan